Kamis, 16 Juni 2016

Antara masalah dan kebersamaan

Hidup…
Selalu saja ada masalah dan rintangan yang biasanya menghalangi kita untuk berbuat sesuatu. Terkadang masalah datang silih berganti. Dan jika masalah telah datang, kita tidak bisa menunda masalah itu apalagi membiarkannya lewat begitu saja. Mau tidak mau, harus kita hadapi. Seperti seorang prajurit yang akan mengalahkan seorang pendekar di tengah-tengah peperangan. Dan pastinya, seorang prajurit tersebut akan membuat strategi dan mencari kelemahan dari seorang pendekar. Prajurit itu juga tidak akan bisa membuat strategi seorang diri. Aku pernah dengar istilah bahwa manusia adalah makhluk sosial. Saling membutuhkan satu sama lain. Prajurit juga manusia kan? Dan aku berani bertaruh, seorang prajurit itu akan meminta bantuan kepada keluarga, sahabat-sahabatnya atau yang lainnya untuk mencari, strategi apa yang dapat mengalahkan pendekar tersebut. Dan mencari seseorang untuk dapat mengetahui kelemahan dari pendekar itu. Harry Potter dalam mengalahkan Lord Voldemort, masih membutuhkan Hermione dan Ron untuk bisa mengalahkannya. Akan tetapi, terkadang setiap orang dalam menyelesaikan sebuah masalah, ia pasti akan memikirkan, apakah masalah itu akan berdampak bagi dirinya sendiri atau bahkan masalah itu akan berdampak bagi semua orang? Menurutku, kalau bagi dirinya saja, ia akan mencari jalan keluar dan pastinya akan ada satu atau dua orang yang akan membantunya melewati masalah itu. Dan jika masalah itu memiliki dampak bagi semua orang, pastinya salah satu dari mereka atau bahkan orang yang membuat masalah itu akan rela berkorban atau memilih untuk mengundurkan dirinya demi kebaikan orang lain.
Rendra Augustin, salah seorang mahasiswa yang memiliki mimpi sewaktu masih kecil sampai ia telah tamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu ingin menjadi seorang Dokter. Mimpinya untuk menjadi seorang Dokter tidak pernah tergantikan dengan yang lainnya. Walaupun, banyak sekali penawaran kuliah dan beasiswa untuknya, tapi ia tidak pernah tergiur. Karena penawaran kuliah dan beasiswa untuknya bukanlah sekolah kedokteran. Dia tamat SMA dengan predikat sebagai siswa berprestasi dengan umur yang masih terbilang cukup muda. Dia menamatkan pendidikan dengan usia 16 tahun dan masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Kota Kupang. Karena keinginannya menjadi seorang Dokter, maka ia berusaha untuk mendapatkannya. Maka masuklah dia di salah satu Universitas yang sangat terkenal di Kota Kupang.
Dengan penuh percaya diri, dia mendaftarkan dirinya sebagai calon mahasiswa kedokteran. Dia tidak memilih jurusan yang lain. Walaupun di Universitas itu membuka pendaftaran dengan 2 pilihan. Namun, ia tetap percaya diri akan keputusannya.
Waktu tes tertulis pun diadakan. Semua orang yang mendaftar juga telah menyiapkan diri mereka masing-masing untuk mengikuti tes itu termasuk Rendra. Di sana, ia mendapatkan seorang teman lama yang sama-sama juga mendaftar sebagai calon mahasiswa kedokteran. Namanya Virgin Damayanti. Lulusan dari salah satu sekolah International di Kota Kupang. Rendra sangat senang karena, disamping dia mendapatkan teman lamanya, Virgin juga mendapatkan ruangan tes yang sama dengan ruangan Rendra dan hanya bersebelahan bangku. Mereka berdua pun saling berbagi pengalaman di dalam kelas sambil menunggu waktu tes tertulis dimulai.
Jam 08.00 WITA, lonceng ujian pun dimulai. Rendra dan Virgin pun terlihat sangat antusias dalam mengerjakan soal. Tidak terlihat dari antara mereka berdua yang saling memberikan kunci jawaban, sampai waktu ujian selesai dan lonceng pun berbunyi. Mereka berdua keluar dengan wajah yang sangat bahagia. Mungkin, karena soal yang mereka kerjakan itu sangatlah gampang. Dan mereka berdua yakin, bahwa mereka akan lulus.
Tibalah hari pengumuman ujian. Semua calon mahasiswa termasuk calon mahasiswa kedokteran tampak gugup. Rendra dan Virgin juga terlihat kuatir. Di satu sisi mereka tampak yakin bahwa mereka akan lulus. Di sisi lain mereka juga yakin bahwa mereka tidak lulus.
Maka panitia pelaksanaan ujian pun menempel hasilnya di papan pengumuman. Sebagian orang sangat bahagia karena mereka lulus. Dan sebagiannya lagi terlihat sangat sedih karena nama mereka tidak tercantum di papan pengumuman itu. Dengan percaya diri, Rendra dan Virgin pergi ke papan pengumuman. Rendra sangat bahagia karena namanya tercantum di nomor urut 5 dari 74 mahasiswa. Sedangkan, Virgin terlihat sedih karena namanya tidak tercantum. Rendra tidak bisa berbuat apa-apa. Kenyataannya bahwa Virgin tidak lulus. Membuat Rendra yang tadinya tampak bahagia sekarang terlihat sedih.
“Kenapa… kenapa namaku tidak ada Ren… aku sudah berusaha dan sudah belajar semampuku untuk bisa lulus… tapi kenapa? Apa yang salah?” kata Virgin. “Sudahlah Gin, janganlah bersedih lagi… mungkin ini ujian dari Tuhan agar kamu tetap berusaha dan berusaha lagi” Rendra menguatkan hati Virgin. “Sekarang aku mulai bingung Rendra… setelah aku tidak lulus, kemana lagi aku harus pergi sekarang? Orangtuaku pasti akan marah karena aku tidak lulus dan itu pertanda bahwa aku akan kuliah ke Jogja” kata Virgin sambil menghapus air matanya. “Itu bagus Virgin. Berarti orangtua kamu masih mendukung supaya kamu masih bisa bersekolah… kenapa dari waktu itu kamu tidak kesana?” kata Rendra. “Rendra… dari dulu sampai sekarang, cita-cita ku sebagai seorang dokter.. dan dari dulu juga aku ingin kuliah di Universitas ini. Aku tidak mau kuliah kemana-mana lagi selain di tempat ini. Tempat ini sangat cocok buat aku karena disini sangat sejuk dan halamannya tampak bersih. Aku tidak peduli dengan kampus yang lain. Walaupun di sana terlihat lebih rapi dari tempat ini, tapi aku tidak ingin merubah keputusanku.” kata Virgin. “Baiklah kalau itu adalah keputusannmu. Tapi, sekarang kamu tidak lulus dan pastinya kamu akan daftar lagi tahun depan. Kira-kira selama 1 tahun ini kamu akan buat apa? Kerja?” tanya Rendra. “Iya, aku akan kerja. Biar aku bisa meringankan beban orangtuaku dan sambil menunggu pendaftaran tahun depan.” kata Virgin. “Baiklah aku mendukungmu… Berarti aku tunggu kamu tahun depan di kampus ini” kata Rendra
Berbagai keputusan telah diambil oleh Virgin. Dia tidak akan bersekolah ke Jogja walaupun orangtua memaksanya dan selama satu tahun ini ia akan bekerja untuk meringankan beban orangtuanya. Rendra pun terlihat sangat senang dan disamping itu ia juga tampak terlihat sedih bahwa teman lamanya Virgin tidak lulus. Tapi, mereka berdua tetap percaya bahwa itu semua adalah ujian dari Tuhan dan pasti semuanya akan indah pada waktunya.
Matahari tidak lagi memunculkan wujudnya dan menggantikannya dengan bulan dan bintang-bintang. Seperti seorang kasir yang bergantian shift untuk bekerja. Di kamar, Rendra bertekuk lutut dan berdoa kepada Tuhan untuk mengucap syukur kepada-Nya karena kelulusannya di Perguruan Tinggi Swasta. Di samping itu juga ia memohon kepada Tuhan untuk menguatkan hati temannya Virgin karena ketidaklulusannya ia dalam masuk Perguruan Tinggi Swasta.
Keesokan harinya sesuai jadwal yang ditetapkan, Rendra pergi ke kampus untuk mendaftar ulang. Dalam hatinya, dia ingin melihat lagi namanya di papan pengumuman sambil foto namanya dan menguploadnya di media sosial. Tapi, di papan itu terlihat aneh dan tidak seperti hari kemarin. Dia melihat ada penambahan 6 nama untuk Jurusan Kedokteran yang menjadi 80 orang. Maka, Rendra pun melihat penambahan nama tersebut dan dari wajahnya, dia tampak terlihat bahagia. Karena, teman lamanya Virgin namanya tercantum di nomor urut ke-80. Segera Rendra menelepon Virgin untuk datang ke kampus karena ia dinyatakan lulus. Dalam hitungan menit, Virgin pun sampai. Awalnya, Virgin tidak percaya, akan tetapi setelah dilihat, bahwa benar namanya ada. Mereka berdua pun tampak bahagia dan menuju ke loket untuk mendaftar ulang sesuai ketentuan persyaratan. Selama 2 minggu waktu untuk mendaftar. Virgin pun mentraktir Rendra untuk makan di kantin karena kelulusannya yang dibilang terlambat. Tapi, Virgin tidak melihat hal itu. Dia hanya berpikir bahwa dia lulus dan dia harus meraih gelar Dokter setelah tamat dari kampus ini.

sumber
 http://cerpenmu.com/cerpen-motivasi/antara-masalah-dan-kebersamaan.html