Hidup…
Selalu saja ada masalah dan rintangan yang biasanya menghalangi kita
untuk berbuat sesuatu. Terkadang masalah datang silih berganti. Dan jika
masalah telah datang, kita tidak bisa menunda masalah itu apalagi
membiarkannya lewat begitu saja. Mau tidak mau, harus kita hadapi.
Seperti seorang prajurit yang akan mengalahkan seorang pendekar di
tengah-tengah peperangan. Dan pastinya, seorang prajurit tersebut akan
membuat strategi dan mencari kelemahan dari seorang pendekar. Prajurit
itu juga tidak akan bisa membuat strategi seorang diri. Aku pernah
dengar istilah bahwa manusia adalah makhluk sosial. Saling membutuhkan
satu sama lain. Prajurit juga manusia kan? Dan aku berani bertaruh,
seorang prajurit itu akan meminta bantuan kepada keluarga,
sahabat-sahabatnya atau yang lainnya untuk mencari, strategi apa yang
dapat mengalahkan pendekar tersebut. Dan mencari seseorang untuk dapat
mengetahui kelemahan dari pendekar itu. Harry Potter dalam mengalahkan
Lord Voldemort, masih membutuhkan Hermione dan Ron untuk bisa
mengalahkannya. Akan tetapi, terkadang setiap orang dalam menyelesaikan
sebuah masalah, ia pasti akan memikirkan, apakah masalah itu akan
berdampak bagi dirinya sendiri atau bahkan masalah itu akan berdampak
bagi semua orang? Menurutku, kalau bagi dirinya saja, ia akan mencari
jalan keluar dan pastinya akan ada satu atau dua orang yang akan
membantunya melewati masalah itu. Dan jika masalah itu memiliki dampak
bagi semua orang, pastinya salah satu dari mereka atau bahkan orang yang
membuat masalah itu akan rela berkorban atau memilih untuk mengundurkan
dirinya demi kebaikan orang lain.
Rendra Augustin, salah seorang mahasiswa yang memiliki mimpi sewaktu
masih kecil sampai ia telah tamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu
ingin menjadi seorang Dokter. Mimpinya untuk menjadi seorang Dokter
tidak pernah tergantikan dengan yang lainnya. Walaupun, banyak sekali
penawaran kuliah dan beasiswa untuknya, tapi ia tidak pernah tergiur.
Karena penawaran kuliah dan beasiswa untuknya bukanlah sekolah
kedokteran. Dia tamat SMA dengan predikat sebagai siswa berprestasi
dengan umur yang masih terbilang cukup muda. Dia menamatkan pendidikan
dengan usia 16 tahun dan masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Swasta di
Kota Kupang. Karena keinginannya menjadi seorang Dokter, maka ia
berusaha untuk mendapatkannya. Maka masuklah dia di salah satu
Universitas yang sangat terkenal di Kota Kupang.
Dengan penuh percaya diri, dia mendaftarkan dirinya sebagai calon
mahasiswa kedokteran. Dia tidak memilih jurusan yang lain. Walaupun di
Universitas itu membuka pendaftaran dengan 2 pilihan. Namun, ia tetap
percaya diri akan keputusannya.
Waktu tes tertulis pun diadakan. Semua orang yang mendaftar juga
telah menyiapkan diri mereka masing-masing untuk mengikuti tes itu
termasuk Rendra. Di sana, ia mendapatkan seorang teman lama yang
sama-sama juga mendaftar sebagai calon mahasiswa kedokteran. Namanya
Virgin Damayanti. Lulusan dari salah satu sekolah International di Kota
Kupang. Rendra sangat senang karena, disamping dia mendapatkan teman
lamanya, Virgin juga mendapatkan ruangan tes yang sama dengan ruangan
Rendra dan hanya bersebelahan bangku. Mereka berdua pun saling berbagi
pengalaman di dalam kelas sambil menunggu waktu tes tertulis dimulai.
Jam 08.00 WITA, lonceng ujian pun dimulai. Rendra dan Virgin pun
terlihat sangat antusias dalam mengerjakan soal. Tidak terlihat dari
antara mereka berdua yang saling memberikan kunci jawaban, sampai waktu
ujian selesai dan lonceng pun berbunyi. Mereka berdua keluar dengan
wajah yang sangat bahagia. Mungkin, karena soal yang mereka kerjakan itu
sangatlah gampang. Dan mereka berdua yakin, bahwa mereka akan lulus.
Tibalah hari pengumuman ujian. Semua calon mahasiswa termasuk calon
mahasiswa kedokteran tampak gugup. Rendra dan Virgin juga terlihat
kuatir. Di satu sisi mereka tampak yakin bahwa mereka akan lulus. Di
sisi lain mereka juga yakin bahwa mereka tidak lulus.
Maka panitia pelaksanaan ujian pun menempel hasilnya di papan
pengumuman. Sebagian orang sangat bahagia karena mereka lulus. Dan
sebagiannya lagi terlihat sangat sedih karena nama mereka tidak
tercantum di papan pengumuman itu. Dengan percaya diri, Rendra dan
Virgin pergi ke papan pengumuman. Rendra sangat bahagia karena namanya
tercantum di nomor urut 5 dari 74 mahasiswa. Sedangkan, Virgin terlihat
sedih karena namanya tidak tercantum. Rendra tidak bisa berbuat apa-apa.
Kenyataannya bahwa Virgin tidak lulus. Membuat Rendra yang tadinya
tampak bahagia sekarang terlihat sedih.
“Kenapa… kenapa namaku tidak ada Ren… aku sudah berusaha dan sudah
belajar semampuku untuk bisa lulus… tapi kenapa? Apa yang salah?” kata
Virgin. “Sudahlah Gin, janganlah bersedih lagi… mungkin ini ujian dari
Tuhan agar kamu tetap berusaha dan berusaha lagi” Rendra menguatkan hati
Virgin. “Sekarang aku mulai bingung Rendra… setelah aku tidak lulus,
kemana lagi aku harus pergi sekarang? Orangtuaku pasti akan marah karena
aku tidak lulus dan itu pertanda bahwa aku akan kuliah ke Jogja” kata
Virgin sambil menghapus air matanya. “Itu bagus Virgin. Berarti orangtua
kamu masih mendukung supaya kamu masih bisa bersekolah… kenapa dari
waktu itu kamu tidak kesana?” kata Rendra. “Rendra… dari dulu sampai
sekarang, cita-cita ku sebagai seorang dokter.. dan dari dulu juga aku
ingin kuliah di Universitas ini. Aku tidak mau kuliah kemana-mana lagi
selain di tempat ini. Tempat ini sangat cocok buat aku karena disini
sangat sejuk dan halamannya tampak bersih. Aku tidak peduli dengan
kampus yang lain. Walaupun di sana terlihat lebih rapi dari tempat ini,
tapi aku tidak ingin merubah keputusanku.” kata Virgin. “Baiklah kalau
itu adalah keputusannmu. Tapi, sekarang kamu tidak lulus dan pastinya
kamu akan daftar lagi tahun depan. Kira-kira selama 1 tahun ini kamu
akan buat apa? Kerja?” tanya Rendra. “Iya, aku akan kerja. Biar aku bisa
meringankan beban orangtuaku dan sambil menunggu pendaftaran tahun
depan.” kata Virgin. “Baiklah aku mendukungmu… Berarti aku tunggu kamu
tahun depan di kampus ini” kata Rendra
Berbagai keputusan telah diambil oleh Virgin. Dia tidak akan
bersekolah ke Jogja walaupun orangtua memaksanya dan selama satu tahun
ini ia akan bekerja untuk meringankan beban orangtuanya. Rendra pun
terlihat sangat senang dan disamping itu ia juga tampak terlihat sedih
bahwa teman lamanya Virgin tidak lulus. Tapi, mereka berdua tetap
percaya bahwa itu semua adalah ujian dari Tuhan dan pasti semuanya akan
indah pada waktunya.
Matahari tidak lagi memunculkan wujudnya dan menggantikannya dengan
bulan dan bintang-bintang. Seperti seorang kasir yang bergantian shift
untuk bekerja. Di kamar, Rendra bertekuk lutut dan berdoa kepada Tuhan
untuk mengucap syukur kepada-Nya karena kelulusannya di Perguruan Tinggi
Swasta. Di samping itu juga ia memohon kepada Tuhan untuk menguatkan
hati temannya Virgin karena ketidaklulusannya ia dalam masuk Perguruan
Tinggi Swasta.
Keesokan harinya sesuai jadwal yang ditetapkan, Rendra pergi ke
kampus untuk mendaftar ulang. Dalam hatinya, dia ingin melihat lagi
namanya di papan pengumuman sambil foto namanya dan menguploadnya di
media sosial. Tapi, di papan itu terlihat aneh dan tidak seperti hari
kemarin. Dia melihat ada penambahan 6 nama untuk Jurusan Kedokteran yang
menjadi 80 orang. Maka, Rendra pun melihat penambahan nama tersebut dan
dari wajahnya, dia tampak terlihat bahagia. Karena, teman lamanya
Virgin namanya tercantum di nomor urut ke-80. Segera Rendra menelepon
Virgin untuk datang ke kampus karena ia dinyatakan lulus. Dalam hitungan
menit, Virgin pun sampai. Awalnya, Virgin tidak percaya, akan tetapi
setelah dilihat, bahwa benar namanya ada. Mereka berdua pun tampak
bahagia dan menuju ke loket untuk mendaftar ulang sesuai ketentuan
persyaratan. Selama 2 minggu waktu untuk mendaftar. Virgin pun
mentraktir Rendra untuk makan di kantin karena kelulusannya yang
dibilang terlambat. Tapi, Virgin tidak melihat hal itu. Dia hanya
berpikir bahwa dia lulus dan dia harus meraih gelar Dokter setelah tamat
dari kampus ini.
sumber
http://cerpenmu.com/cerpen-motivasi/antara-masalah-dan-kebersamaan.html